Rembang, Rembangnews.com – Silo untuk penyimpanan gabah dan sentra pengering jagung bakal dibangun di Kabupaten Rembang.
Hal itu dilakukan untuk memperkuat tata kelola pangan dari hulu hingga hilir. Silo tersebut dirancang berkapasitas hingga 9.000 ton dan mampu menyimpan gabah kering giling (GKG) sebelum diproses menjadi beras medium maupun premium.
Silo tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk menyimpan gabah yang diserap Bulog sebelum diproses lebih lanjut.
Gabah tersebut nantinya bisa diolah menjadi beras medium dan premium hingga tepung beras.
“Nanti padi masuk ke mesin Bulog, disimpan dalam silo kapasitas 9.000 ton. Kapan pun mau diproses menjadi beras premium atau medium, hasilnya tetap fresh,” jelas Pimpinan Bulog Cabang Pati, Meitha Nova Riany.
Beras yang dihasilkan merupakan bagian dari cadangan beras pemerintah (CBP) yang akan disalurkan untuk kebutuhan stabilisasi maupun bantuan pangan. Dengan sistem penyimpanan modern, kualitas beras tetap terjaga.
“Berasnya selalu fresh. Fungsinya untuk menjaga standar harga, sehingga tidak ada lagi harga di bawah harga pembelian pemerintah,” terangnya.
Kemudian pihaknya juga menilai ada potensi penguatan komoditas jagung di Rembang. Sebab harga jagung di tingkat petani kerap rendah karena belum memenuhi standar kadar air yang ditetapkan pemerintah.
“Yang diatur pemerintah itu jagung pipil kering. Kalau masih bonggol atau belum dipipil memang belum diatur. Untuk jagung pipil kering dengan kadar air 18–20 persen, Bulog membeli Rp5.500. Tetapi itu harus melalui proses pengeringan,” jelasnya.
Harga yang rendah menurutnya disebabkan oleh tak adanya fasilitas pengeringan. Karena itu, Bulog mendorong pembangunan Corn Drying Center atau sentra pengeringan jagung.
“Fasilitas ini untuk menurunkan kadar air setelah panen. Kalau itu ada, nilai tukar petani bisa meningkat dan harga mengikuti standar pemerintah,” jelasnya.
Realisasi pembangunan tersebut menurutnya membutuhkan dukungan dari Pemkab Rembang dengan menyediakan lahan minimal lima hektare. Namun statusnya harus hibah karena Bulog tidak diperkenankan membangun di atas aset milik daerah tanpa proses hibah.
Seluruh pembiayaan pembangunan akan ditanggung Bulog, sementara proses administrasi hibah menjadi kewenangan pemerintah daerah dan DPRD.
“Minimal lima hektare karena kebutuhan mesin modern. Jika proses hibah selesai dan sudah ada persetujuan, kami targetkan pembangunan pada 2026,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Rembang Harno mengaku siap menyediakan lahan untuk pembangunan tersebut.
“Pemkab akan menyiapkan lahan minimal lima hektare. Kalau bersama jagungnya, bisa sampai tujuh hektare,” ujar Harno.
Salah satu opsi lokasi adalah di kawasan lahan milik pemkab di bagian belakang area Gedung Olahraga (GOR) yang berdekatan dengan Kampus Undip. Akses menuju lokasi juga dinilainya cukup memadai karena dapat dilalui melalui Jalan Desa Kerep maupun jalan utama lainnya.
“Saya sudah berpikir, untuk awal bisa ditempatkan di bagian belakang. Sebelah utara kan Undip, kurang lebih ada 15 hektare. Masih ada luas lahan, nanti saya taruh di belakang. Lewatnya bisa lewat Jalan Kerep dan juga bisa lewat jalan utama. Nanti akan saya hitung kebutuhan luasnya untuk semuanya,” jelasnya. (*)







