Mengenal Istilah Hustle Culture dan Dampaknya

Rembangnews.com – Apakah Anda pernah mendengar istilah hustle culture? Istilah ini mulai banyak dipakai kalangan pekerja milenial hingga gen Z.

Hustle culture merupakan budaya bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melewati batas kemampuan demi mencapai sebuah tujuan kapitalis, seperti kekayaan, kemakmuran, dan kesuksesan secepat mungkin.

Bagi anak muda yang tengah berada di kehidupan dewasa mula atau bagi mereka yang baru saja menjajal dunia kerja, capaian kesuksesan biasanya menjadi hal yang selalu dibandingkan satu sama lain.

Hal inilah yang kemudian mendorong mereka untuk bekerja dengan keras dan cenderung overload demi mencapai tingkat kesuksesan yang mereka idamkan.

Hal negatif dari hustle culture adalah membuat seseorang merasa tak pernah cukup dengan apa yang diraih dan cenderung menganggap apa yang dilakukan belum seberapa untuk mengantarkan pada kesuksesan.

Baca Juga :   Contoh Ucapan Selamat Tahun Baru 2023

Mereka yang menganut hustle culture pun cenderung lebih mementingkan produktivitas dan materi. Sehingga hal-hal lain seperti hubungan antar manusia, kebahagiaan diri, dan kesehatan mental cenderung diabaikan.

Meskipun secara kasat mata mereka terlihat memiliki produktivitas dan pencapaian yang baik, namun sebenarnya hustle culture merugikan orang yang menganutnya.

Mereka bisa saja kelelahan secara fisik maupun mental. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan jika orang yang bekerja terlalu keras dapat meningkatkan resiko penyakit.

Karena mereka cenderung mengabaikan hal diluar produktivitas dan materi, makai a akan kehilangan work life balance serta kebahagiaan untuk hidup seutuhnya.

Penyebab hustle culture bisa saja dari tekanan sosial dan toxic positivity. Lingkungan sosial biasanya hanya menilai kesuksesan orang lain dari tingkat jabatan, jumlah gaji, dan jenis pekerjaan. Hal ini bisa mendorong sesorang untuk hidup dalam hustle culture.

Baca Juga :   Baca Doa Ini Saat Turun Hujan Agar Mendapat Keberkahan

Selain itu, adanya toxic positivity atau asumsi positif terhadap sesuatu yang sebenarnya membuat tertekan juga berpengaruh. Di mana seseorang menuntut atau dituntut selalu beranggapan positif atas apa yang dijalani meskipun sedang berada dalam keadaan lelah.

Padahal sebenarnya, mengambil jeda dan beristirahat adalah hal yang boleh dilakukan. Dan hal ini terkadang diperlukan untuk membuat tubuh dan pikiran bisa bekerja dengan lebih baik lagi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *