43 Persen Produk Terasi Rembang Masih Positif Mengandung Zat Berbahaya

Rembang, Rembangnews.comSebanyak 43 persen produk terasi asal Kabupaten Rembang diketahui masih positif mengandung zat berbahaya, rhodamin B.

Hal itu berdasarkan dari hasil pengujian yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah. Pengujian dilakukan pada sebanyak 37 sampel terasi, dimana 29 sampel berasal dari distribusi.

Terasi yang berasal dari distribusi menunjukkan hasil 19 sampel atau 66 persen aman. Sedangkan sisanya 10 sampel masih positif mengandung rhodamin B.

Sampel yang diambil berasal dari Desa Tritunggal, Bonang, Leran, Pasarbanggi, Pandangankulon, dan Pasar Induk Rembang.

Ketua Tim Komunikasi, Informasi, dan Edukasi BPOM Jawa Tengah, Novi Eko Rini menekankan bahwa penggunaan rhodamin B yang merupakan pewarna tekstil seharusnya tidak lagi digunakan para pelaku usaha. Karena bisa menyebabkan masalah kesehatan bagi konsumen.

Baca Juga :   Tim Atlet Bintang FC Rembang Wakili Indonesia di Sea FT, Ini Pesan Pelatih

“Penggunaan pewarna tekstil rhodamin B yang berwarna merah itu supaya tidak digunakan lagi oleh para pelaku usaha. Sehingga tidak menimbulkan risiko kesehatan pada konsumen yang mengkonsumsi terasi,” ujarnya.

Sayangnya, hingga kini masih banyak ditemui pelaku usaha yang menggunakan zat berbahaya ini. Tak hanya pada terasi namun juga jajanan dengan warna yang mencolok dan cerah.

Oleh karena itu, pihaknya pun meminta para orang tua untuk mengedukasi anak-anaknya mana jajanan yang aman dan yang sabaiknya dihindari.

“Salah satu indikatornya adalah warnanya yang mencolok, banyak titik-titik warna merah yang tidak larut. Karena salah satu sifat dari rhodamin B ini memang tidak bisa larut dalam air atau bahan makanan yang mengandung air,” ujarnya.

Baca Juga :   Pasar Hewan Pamotan Rembang Kembali Dibuka Usai Tutup Dua Bulan

Mengingat bahaya dari rhodamin B, para pelaku usaha pun diharapkan beralih ke pewarna yang lebih aman.

“Kan ada pewarna makanan yang diperbolehkan tapi bukan untuk terasi, tapi (contohnya) ini memang khusus sesuai standar pangan untuk pewarna terasi,” ucap Novi.

BPOM bersama Dinas Kesehatan, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang, dan tim penggerak PKK pun akan mengupayakan para pengusaha menggunakan pewarna alami.

Nantinya, kader PKK akan terjun ke daerah masing-masing untuk memeriksa dan memberi edukasi tentang bahaya rhodamin B kepada warga.

“Apakah terasi-terasi yang digunakan di sana (masyarakat) itu positif mengandung rhodamin B atau tidak,” tandas Novi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *