Kisah Hangat di Balik Meja Kayu di Museum RA Kartini Rembang

Rembang, Rembangnews.comMeja kayu yang berada di ruang tengah Museum RA Kartini Rembang ternyata menyimpan kisah hangat.

Meja kayu itu tak hanya perabot biasa. Namun menyimpan kisah hangat tentang kebersamaan, nilai keluarga, dan pemikiran mendalam RA Kartini.

Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati mengatakan bahwa benda di museum tersebut memiliki cerita unik termasuk meja di ruang keluarga.

“Mungkin bagi sebagian orang kayak meja biasa, tetapi di situ juga mengandung makna bahwa di meja tersebut itu keluarga Joyodiningrat sendiri itu ternyata kalau berkumpul bukan di waktu malam atau pagi,” ujarnya.

Baca Juga :   UMKM Ini Sukses Olah Kawista Buah Khas Rembang Jadi Sirup

Momen kebersamaan keluarga Kartini biasanya berlangsung sore hari. Usai Raden Adipati Joyodiningrat menyelesaikan pekerjaannya dan membersihkan diri, mereka biasanya berkumpul di meja tersebut sambil menikmati teh.

“Sore setelah Pak Joyodiningrat ini selesai bekerja, selesai mengajar, terus beliau itu mandi, nanti baru sekitar jam 4-an beliau itu duduk bareng dengan RA Kartini sambil minum teh,” jelasnya.

Mereka biasanya melakukan tradisi minum teh, dimana tradisi tersebut merupakan pengaruh budaya Belanda. Mereka memberi sentuhan lokal dengan menambahkan kapulaga ke dalam seduhan teh mereka.

“Kapulaga itu mungkin dulu didapat dari apotek hidup yang ditanam di pekarangan,” jelasnya.

Meja tersebut juga mencerminkan estetika dan filosofi Kartini. Meja tersebut juga didesain langsung oleh Kartini dengan detail yang sarat makna. Di sekelilingnya terdapat enam kursi, lima di antaranya dihiasi tokoh wayang Pandawa Lima, sementara satu kursi lainnya menampilkan sosok Kresna.

Baca Juga :   Sopir Truk Diimbau Tidak Parkir Liar di Badan Jalan

“Pandawa Lima itu melambangkan keluarga yang solid. Kartini ingin menunjukkan bahwa keluarga harus kuat dan bersatu,” paparnya.

Kehadiran Kresna, tokoh bijaksana yang dikenal sebagai penengah dalam konflik, menjadi simbol kebijaksanaan dan keberpihakan pada kebenaran.

Keberadaan meja ini bukan sekadar artefak, melainkan representasi pemikiran Kartini yang jauh melampaui zamannya.

Ia melihat bagaimana Kartini tidak hanya memperjuangkan emansipasi perempuan melalui tulisan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam ruang domestik.

“Dari hal sederhana seperti meja dan kursi, kita bisa melihat bagaimana Kartini memaknai keluarga, kebersamaan, dan filosofi hidup. Itu yang kadang tidak disadari oleh pengunjung,” ujarnya.

Di momen peringatan Hari Kartini, kisah tentang meja ini menjadi pengingat bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam buku dan pidato, tetapi juga dalam detail keseharian yang sarat makna. Sebuah meja, secangkir teh, dan percakapan sore hari menjadi saksi bisu lahirnya gagasan besar dari seorang perempuan yang mengubah sejarah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *