El Nino Godzilla Ancam Indonesia, Petani Rembang Optimis Tetap Bisa Tanam

Rembang, Rembangnews.comFenomena El Nino Godzilla mengancam Indonesia karena dapat menyebabkan kemarau panjang.

Meski begitu, petani Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori tetap optimistis bisa tanam dengan bantuan alat dan mesin pertanian serta irigasi yang memadai.

Para petani di wilayah tersebut sudah menggunakan alat modern dalam bertani. Seperti misalnya memanen padi menggunakan combine harvester, menggunakan transplanter untuk menanam benih padi, hingga mengeringkan gabah menggunakan bed dryer, sebelum diolah menjadi beras.

Karena alat tersebut, para petani pun bisa memanen hasil lebih sering yaitu tiga kali dalam setahun dari yang sebelumnya hanya sekali.

“Mampu dua kali tanam saja itu kalau curah hujan tinggi. Alhamdulillah, sejak mendapat bantuan irpom (irigasi perpompaan) dari pemerintah pusat, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” ujar anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono.

Baca Juga :   23 Peserta Lolos Seleksi Administrasi JPTP Pemkab Rembang

Tercatat, ada 80 petani yang tergabung dalam kelompok tani tersebut dengan luas lahan yang digarap mencapai sekitar 35 hektare, yang mampu memproduksi 7–7,5 ton per hektare.

Alat seperti bed dryer, irigasi perpompaan, combine harvester, hingga transplanter merupakan bantuan dari pemerintah baik kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Sedangkan irigasi didukung dari Bendung Randugunting. Nantinya, akan dilakukan perpipaan untuk menyambungkan saluran air ke sawah yang jauh dari sungai.

Alhamdulillah, belum begitu terpengaruh kemarau panjang, karena hampir satu minggu sekali masih ada hujan. Kami dari pengurus akan memanfaatkan bantuan irpom dari sungai ke lahan-lahan yang siap diolah tanahnya,” jelasnya.

Pihaknya pun ada bantuan tanggul sungai agar tak masuk ke lahan pertanian.

“Harapannya dibantu tanggul di sungai agar air laut tidak masuk sampai ke sini dan memengaruhi pasokan air baku petani dan warga,” imbuh Karyono.

Baca Juga :   Ada Dua Tersangka di Kasus Tipikor Pengadaan Jaringan Serat Optik Kantor Gubernur Kalbar

Petani Desa Mojorembun, Rujito mengaku telah bersiap menanam padi lagi setelah sawahnya panen. Dia optimistis bantuan yang diterima mampu memperlancar usaha taninya.

“Kita tahunya akan ada kemarau panjang dari televisi. Namun, kami di sini melihat cuaca sampai saat ini masih memungkinkan, sehingga memberanikan diri memulai musim tanam ketiga (MT 3),” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, tidak menampik potensi dampak cuaca kering atau El Nino terhadap target produksi padi 10,5 juta ton pada akhir 2026. Karena itu, pihaknya menyusun sejumlah langkah strategis.

“Langkah pertama percepatan masa tanam, penggunaan ‘sistem sepur’, begitu panen langsung disambung tanam setelah tanah diolah. Koordinasi dengan BBWS dan PSDA juga dilakukan untuk mengecek lokasi yang kering terlebih dahulu, penanaman varietas tahan cuaca kering, serta pengawalan terhadap hama dan perubahan iklim,” sebutnya.

Baca Juga :   Inilah 20 Ramalan Jayabaya yang Dipercaya Telah Terwujud

Sejumlah bantuan diberikan kepada petani untuk menggenjot produksi dan menghadapi kemarau panjang. Di antaranya, bantuan dari APBD provinsi berupa rehabilitasi jaringan sebanyak 334 unit, dan irigasi alternatif sebanyak 75 unit. Ada pula bantuan irigasi perpompaan dari Kementerian Pertanian sebanyak 1.823 unit, serta irigasi perpipaan sebanyak 366 unit.

Di samping itu, pihaknya juga memaksimalkan pemberian benih inbrida. Dengan benih tersebut, petani dimungkinkan melakukan pembenihan mandiri. Pada 2026, jumlah benih inbrida yang dibagikan untuk luasan 47.200 hektare, meningkat dibanding 2025 yang hanya 5.300 hektare.

“Jadi bantuan dari APBN dan APBD ini, untuk mendukung kesiapan aliran air memasuki musim tanam,” pungkas Frans. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *