Luas Panen Padi Jateng Sepanjang 2025 Capai 1,67 Juta Hektare

Rembangnews.com – Luas panen padi di Jawa Tengah sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 1,67 juta hektare atau naik 7,46 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 1,55 juta hektare.

Sedangkan produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) pada tahun yang sama diperkirakan mencapai 11,36 juta ton.

Jumlah tersebut meningkat 497,69 ribu ton GKP atau 5,55 persen dibandingkan produksi padi GKP tahun 2024 sebesar 10,76 juta ton.

Kemudian lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) Jawa Tengah sendiri tercatat sebesar 1.018.106,89 hektare.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli mengatakan bahwa lahan LSD tersebut diharapkan tidak berkurang.

“Komitmen dari Pak Gubernur itu sampai dengan kapan pun tidak akan berkurang LSD di Jawa Tengah, itu menjadi salah satu perhatian,” tegas Zulkifli.

Baca Juga :   Pemusnahan 6 Juta Batang Rokok Ilegal di Kudus, Nilainya Capai Rp8,28 Miliar

Pemprov Jateng sendiri juga telah menetapkan ketahanan pangan sebagai fokus utama pembangunan daerah pada 2026.

“Sesuai dengan RPJMD dan RKPD 2026 itu, meneguhkan posisi Jawa Tengah sebagai penumpu pangan nasional,” katanya.

Langkah awal akan dilakukan penguatan sarana dan prasarana pertanian, antara lain melalui pemberian bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), bantuan bibit, serta pupuk kepada petani.

Selain itu, Pemprov Jateng juga membuka akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), seperti Bank Jateng, BPR BKK, dan PT Jamkrida.

Pada sisi hilir, Pemprov Jateng melalui BUMD PT Jateng Agro Berdikari (JTAB) juga akan menyerap hasil panen petani untuk membantu akses pemasaran.

Baca Juga :   Desa Kelet Jepara Dicanangkan Jadi Desa Cinta Statistik

Zulkifli meyakini, berbagai skema ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pertanian, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pertanian secara berkelanjutan.

“Sehingga otomatis ketika permodalan, pendampingan dari penyuluh, asuransi, kemudian yang terakhir itu market terselesaikan, saya kira pertumbuhan di sektor pertanian cukup tinggi,” jelasnya.

Selain penguatan sistem produksi, regenerasi petani juga menjadi tantangan serius. Untuk menjawab hal ini, program Kartu Zilenial gagasan Ahmad Luthfi di dalamnya memuat skema petani milenial gajian.

“Konsep petani milenial gajian itu kira-kira gini, akses modalnya diberikan fasilitas permodalannya, kemudian pendampingan dan lahannya oleh dinas, kemudian asuransinya oleh Jamkrida, sama jaminan pasarnya itu oleh JTAB,” lanjutnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *