Mengenal KH Sholeh Darat yang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Rembangnews.comKH Sholeh Darat diusulkan menjadi pahlawan nasional karena berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui keilmuannya. Usulan tersebut saat ini sudah final dan tinggal menunggu keputusan presiden.

KH Sholeh Darat atau Muhammad Saleh bin Umar as-Samarani sendiri dikenal sebagai ulama. Ia lahir di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Dalam buku ‘99 Kiai Kharismatik Indonesia 1’ karya KH A. Aziz Masyhuri dijelaskan alasan panggilan Sholeh Darat diberikan kepada beliau. Pertama, panggilan tersebut sesuai akhir surat yang ia tujukan kepada Penghulu Tafsir Anom, Penghulu Keraton Surakarta yaitu “Al-Haqir Muhammad Sholeh Darat” dan menuliskan namanya “Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang”.

Baca Juga :   Aryanto Misel Penemu Nikuba Hidrogen Diundang ke Italia

Kedua, sebutan “Darat” di nama belakangnya karena ia tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang yang bernama “Darat”. Sudah menjadi tradisi masyarakat saat itu menambahkan tempat tinggal dalam nama.

KH Sholeh Darat sendiri hidup dalam keluarga yang alim dan memiliki kecintaan terhadap Tanah Air. Ayahnya merupakan ulama terpandang di kawasan pantai utara Jawa bernama KH Umar. KH Umar merupakan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro dan pernah ikut dalam Perang Jawa.

Sejak kecil, KH Sholeh Darat memang diberikan berbagai bekal keilmuan karena sang ayah bertekad menjadikan anaknya ulama berpendidikan.

Ilmu agama dari mulai belajar Al-Quran hingga fikih didapatkan dari keluarganya sendiri. Ia juga berguru pada teman seperjuangan ayahnya.

Baca Juga :   Chris Lie Sosok Komikus dan Ilustrator Indonesia yang Mendunia

KH Sholeh Darat pernah menjadi murid KH M. Syahid, ulama yang mengasuh Pesantren Waturoyo, Margoyoso, Kajen, Pati sekaligus cucu Paku Buwono II. Di sana, ia belajar kitab fikih, seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahhab, dan lainnya.

Kemudian ia mempelajari ilmu tafsir dari KH Raden Muhammad Shalih bin Asnami Khudus. Sedangkan ilmu nahwu dan sharaf ia pelajari dari KH Ishak Damaran Semarang dan ilmu falak dari KH Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Baquni. Ia juga pernah belajar di pondok daerah Semarang.

Ia memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni berkat banyak berguru kepada kiai-kiai di tanah Jawa. Selain itu, ia juga berguru pada ulama Haramain, Makkah diantaranya Syekh Muhammad al-Maqri al-Mashri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Sayyid Muhammad Shalih az-Zawawi al-Makki, Syekh Umar asy-Syami, Syekh Yusuf as-Sanbalawi al-Mishri, hingga mufti mazhab Hanafi di Makkah Syekh Jamal.

Baca Juga :   Gubernur Papua Lukas Enembe Berurusan dengan KPK, Berikut Profilnya

KH Sholeh Darat juga diketahui merupakan guru dari tokoh-tokoh besar Indonesia seperti KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *