Musim Kemarau, Rembang Optimalkan Sarana Pengairan untuk Dukung Pertanian

Rembang, Rembangnews.comPada musim kemarau ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mengoptimalkan berbagai sarana pengairan untuk mendukung produksi pertanian.

Salah satunya bantuan irigasi pompa (irpom) yang dialokasikan pemerintah pusat untuk mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto mengatakan bahwa bantuan irigasi pompa dan sarana pengairan kebanyakan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Bantuan ini dinilai membantu mengatasi keterbatasan air yang dihadapi petani, terutama pada musim tanam kedua (MT II) dan musim tanam ketiga (MT III).

“Pemerintah pusat mengantisipasi kondisi kekeringan ini dengan berbagai bantuan kegiatan fisik terkait pengairan. Ada yang berupa bendung, sumur air tanah, long storage, parit, embung, termasuk irigasi pompa,” paparnya.

Baca Juga :   Pesta Siaga Jadi Ajang Tanamkan Rasa Cinta Tanah Air pada Anak

Sarana yang ada diharapkan membantu menjaga ketersediaan air sehingga tanaman tetap dapat bertahan selama musim kemarau.

“Semua ini kita optimalkan. Harapan kami saat MT II dan MT III, yang biasanya di Rembang sangat sulit air, tersedia tandon dan sumber-sumber air di banyak tempat sehingga minimal bisa menyelamatkan tanaman MT II, syukur-syukur dapat menambah luas tanam MT III,” ujarnya.

Terdapat hampir 200 paket irigasi pompa yang telah dialokasikan di Kabupaten Rembang. Bantuan tersebut tersebar pada kelompok tani di berbagai kecamatan.

“Kalau satuan paket irpom hampir 200 paket. Kalau sumurnya sekitar 150, dua titik saja hampir 300 unit irpom,” jelasnya.

Diketahui, luas tambah tanam mulai mengalami penurunan seiring semakin terbatasnya ketersediaan air. Namun masih ada sekitar 4.000 hektare tanaman yang bertahan di lapangan (standing crop).

Baca Juga :   SD di Rembang Raih Rp10 Juta Berkat Kepedulian pada Lingkungan Hidup

“Kalau tambah tanamnya sudah mulai menurun. Biasanya satu bulan kita paling kurang di angka 1.000 hektare, mungkin ini untuk tambah tanamnya. Tapi untuk standing crop, tanaman yang masih ada sampai saat ini kisaran sekitar 4.000-an hektare,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *