Polri Ungkap Gas Air Mata Tragedi Kanjuruhan Kadaluwarsa

Rembangnews.comPolri mengungkapkan bahwa gas air mata yang digunakan pada tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang tersebut sudah kadaluwarsa. Gas Tersebut kadaluwarsa pada tahun 2021 lalu.

“Ada beberapa yang ditemukan (kedaluwarsa), ya. Yang tahun 2021 ada beberapa,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, dikutip dari Detik News, pada Senin (10/10/2022).

Dalam hal ini, Dedi menyebut pihaknya belum bisa mengetahui berapa jumlah gas air mata yang kadaluwarsa. Namun, ia mengatakan seharusnya jika gas air mata kadaluwarsa maka efeknya akan berkurang.

“Saya masih belum tahu jumlahnya. Tapi itu yang masih didalami, tapi ada beberapa. Tapi sebagian besar yang digunakan, ya tiga jenis ini yang digunakan,” kata dia.

Baca Juga :   Pakistan Blokir Wikipedia Diduga Akibat Konten Menyinggung

Ia mengatakan Polri menggunakan tiga jenis gas air mata. Terdapat 11 amunisi gas dengan tingkatan paling tinggi yang digunakan di Kanjuruhan.

“Yang jelas yang digunakan menurut gas air mata itu yang sebelas sama ini. Ini kan yang Pak Kapolri sampaikan, 11 ya. Kalau yang ini (yang hijau atau biru) nanti saya tanyakan dulu,” tutur dia.

Perlu diketahui sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendapatkan informasi bahwa gas air mata yang digunakan Polri dalam tragedi Kanjuruhan merupakan gas air mata kadaluwarsa.

“Kita mendapatkan informasi memang itu kedaluwarsa, ada yang ditemukan kedaluwarsa. Ini sedang kita dalami,” kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, kepada detikcom, Senin (10/10).

Baca Juga :   Petugas Gabungan Gelar Razia Truk Muatan Tambang yang Melintas Tanpa Terpal

Komnas HAM mengatakan bahwa gas air mata dibuat pada tahun 2016 dan memiliki tahun kadaluwarsa pada 2019 lalu.

“Penyebab banyaknya kematian itu penting. Kalau melihat dinamikanya, memang gas air mata lah yang menjadi pemicu utama korban berjatuhan,” kata Anam. (*)

Artikel ini telah tayang di Detik News dengan judul, “Polri Akui Ada Gas Air Mata Kedaluwarsa Ditemukan di Tragedi Kanjuruhan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *