Kebakaran Hutan dan Lahan Masih Jadi Ancaman, Modifikasi Cuaca Dinilai Tak Cukup

Rembangkab.comKebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi ancaman di Tanah Air. Sementara itu, pemerintah seringkali melakukan penanganan saat api telah membesar.

Karhutla pun seakan sudah menjadi bencana musiman. Tahun ini, kebakaran juga terjadi. Data dari Greenpeace menunjukkan bahwa jumlah titik sumber asap karhutla di Kalimantan meningkat dan meluas, dengan total 592 titik sumber asap, 455 di antaranya berada di lanskap gambut.

Sebanyak 322 titik terdeteksi di Kalimantan Barat, 181 titik di Kalimantan Tengah, dan 86 titik di Kalimantan Selatan. Jumlah tersebut berdasarkan pantuan Greenpeace pada 11-16 Agustus 2026.

Parahnya, asap dari kebakaran yang melanda telah melintas hingga ke negara tetangga yaitu Malaysia tepatnya di Serawak.

Baca Juga :   Ibu dan Anak di Pekalongan Tewas Tertabrak Kereta

Hal yang sama pernah terjadi pada September 2019 lalu. Dimana saat itu, asap karhutla tak hanya menyelimuti Kalimantan Barat selama 17 hari, namun juga Serawak selama 11 hari.

Karhutla juga diketahui melanda Papua Selatan pada periode yang sama. Terpantau ada 284 titik sumber asap. Dari Merauke sebanyak 278 titik berada di area Proyek Strategis Nasional (PSN).

Sebagian besar wilayah dataran rendah di Papua Selatan, diketahui merupakan ekosistem lahan basah berupa hutan rawa dan lahan gambut dangkal yang sangat luas. Meski menjadi penyimpanan karbon dan pengatur tata air, ekosistem tersebut juga rentan terhadap kebakaran ketika mengalami pengeringan dan perubahan tata guna lahan.

Baca Juga :   Pengendara Motor Terjun ke Sungai di Lumajang, Diduga Karena Mengantuk

Oleh karena itu, pembukaan dan pengeringan lahan dalam pelaksanaan PSN menjadi hal yang mengkhawatirkan.

Meskipun pemerintah telah menetapkan cara dalam menangani karhutla seperti dengan operasi modifikasi cuaca dan pengerahan helikopter serta pesawat, namun hal itu dinilai tak cukup.

“Operasi modifikasi cuaca itu bukan jawaban yang pas. Negara punya sumber daya yang banyak bisa memberikan solusi-solusi yang nyata. Operasi modifikasi cuaca ini membutuhkan sumber daya yang besar,” ujar peneliti senior Greenpeace Indonesia Sapta Ananda Proklamasi dilansir dari Greenpeace.

Ia menilai solusi seharusnya dihadirkan ke akar masalah bukan hanya merespon kebakaran yang terjadi.

“Cara itu merupakan respons, bukan antisipasi. Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah. Masalah sumber daya air, kekritisan air, kemudian kerentanan kebakaran di rawa, di daerah gambut yang rusak, itu yang seharusnya diperbaiki,” paparnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *